Hindari Sikap Pesimis

Alhamdulillah, hari ini belajar lagi, tentang memvonis diri. Oh iya, artikel ini aku copas dari sini, karena menurutku bagus untuk pembelajaran, yowes aku kopikeun ke blog aku aja. Hehehhe,,
Kadang kita ga sadar ya dengan aktivitas buruk ini, menganggap ini kerendahan hati atau apalah sebutannya, tapi jangan salah, ini bisa jadi tanda orang yang berputus asa lho… Langsung aja deh cekidot isi artikelnya, semoga bermanfaat.


Sahabat, kalo ada yang bertanya kepadamu, “ Kapan anda mau naik haji?” Jawaban sahabat apa? Mungkin ada diantara sahabat yang menjawab, “Insya Allah kalau Allah telah mengijinkan dan mengundang saya sangat berharap dapat menunaikan ibadah rukun islam kelima tersebut” atau ada juga yang menjawab, ”Insya Allah, do’akan ya semoga saya dapat segera melaksanakan ibadah haji. Saya kepingin banget”. Jawaban tersebut menandakan satu harapan besar yang mengandung unsur optimisme. Akan tetapi sahabat, ada juga sebagian diantara kita yang menjawab dengan nada pesimis, “Aaah, jangankan naik haji buat makan sehari-hari saja saya sulit, susah. Bagaimana mau naik haji.” Jawaban ini selain pesimis dia pun telah memvonis dirinya bahwa untuk berhaji itu baginya sangat tidak mungkin, bahkan untuk makan saja sulitnya minta ampun.


Pertanyaan yang lainnya seperti “Eh..anakmu kalau sudah besar mau jadi apa?” Bagi yang berjiwa pesimis jawabannya pasti negatif dan seolah-olah hal itu sudah atau sangat tidak mungkin terjadi pada kehidupannya atau kehidupan anaknya. Seperti jawaban berikut ini “Alaah, kami ini miskin dan bodoh. Anak kami paling jadi gembel seperti kami ini!”


Masya Allah, sahabat kalau hal itu terjadi kepada kita, berhati-hatilah. Karena sebagaimana yang kami baca di buku “Saya Tidak Ingin Kaya Tapi Harus Kaya” yang di tulis oleh KH. Abdullah Gymnastiar. Beliau memaparkan berhati-hatilah dengan vonis diri yang kita ucapkan atau kita lakukan, karena sikap pesimis seperti itu dan mengeluarkan kata-kata yang berupa prasangkaan buruk bisa benar-benar menjadikan kita terpuruk. Dan juga kita sudah bersu’udzan terhadap Allah Swt. Padahal sudah kita ketahui bersama bahwa Allah Swt telah menyebutkan sesuai dengan sabda Rasulullah Muhammad saw.
“Aku (Allah) adalah sesuai dengan persangkaan hamba-Ku terhadap-Ku.” (HR. Syaikhani dan Tirmidzi)
Sahabat, seyogianya dalam kehidupan ini kita senantiasa optimis dalam menjalaninya bagaimanapun sulitnya keadaan kita. Karena rezeki itu sudah menjadi ketetapan Allah seperti halnya jodoh ataupun maut. Dan karena kita tidak dapat menakar seberapa besar rezeki kita dari Allah, maka kita hendaknya tidak berprasangka bahwa kita memang sudah ditakdirkan untuk miskin atau hal yang lainnya. Dalam hadits Qudsi Allah menjelaskan :
“ Wahai anak Adam, Aku telah ciptakan kamu maka kamu jangan bermain-main, dan Aku jamin rezekimu maka kamu jangan merasa capai. Wahai anak Adam, carilah Aku maka engkau akan menemui-Ku. Dan jika engkau menemukan Aku, engkau akan dapat sesuatu, sedang Aku mencintaimu lebih dari segalanya.”
Subhanallah, begitu Maha luasnya kasih sayang Allah kepada umat-Nya. Lalu mengapa kita sampai bersu’udzan dan khawatir bahwa miskin akan menjadi takdir kita. Bukankan Allah telah jelas menyatakan bahwa Allah tidak akan merubah kehidupan kita kalau kita tidak merubahnya.


Sahabat, maka senantiasa optimislah dan terus jemput rezeki yang telah Allah garansikan bagi kehidupan kita. Hindarkan berprasangka buruk kepada Allah, terutama dalam masalah rezeki. Dalam kehidupan nyata ini mungkin kita sering mendengar kisah-kisah sukses dari seseorang. Seperti ada seorang yang tidak tamat SD, namun kini menjadi seorang pengusaha sukses. Dan kisah seorang ibu yang menjadi bakul ikan di pantai Pangandaran, kemudian menjadi pengusaha ekspor hasil laut yang ternama, atau kisah suksesnya Country Donut yang awalnya sebagai sales donut dan tidak mempunyai bakat berjualan tapi kini telah berhasil membuka tempat produksi Donut (Country Donut) di 10 kota di Indonesia dengan label PT Country Lestari atau mungkin kisah-kisah yang lainnya yang dapat kita jadikan ibrah. Dan dari semua keberhasilan-keberhasilan tersebut rahasianya adalah optimis dan jangan memvonis diri dengan hal-hal yang negatif. Karena Allah Maha tahu apa yang diinginkan hambanya.


Sahabat, oleh karena itu janganlah kita memvonis diri dengan ungkapan-ungkapan negatif sehingga seolah-olah berprasangka buruk terhadap Allah Swt. Kalau menilik hadits tersebut diatas yang diriwayatkan oleh Syaikhani dan Tirmidzi, tentulah persangkaan itu yang membuat Allah juga menetapkan persangkaan itu menjadi kenyataan. Naudzubillah

Komentarnya ditunggu...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s